Philosophy: Do and Don’t

Speaker: Johannes Adiyanto
Moderator: Realrich Sjarief
Host: Satria A Permana
Lecture Notes: Amelia M Djaja
Video Editor: Kirana A Garini
Was live 17.07.2020


Cogito Ergo Sum
—Rene Descartes

‘Jargon’ yang selalu membayangi pembahasan filsafat. Tapi apakah keberadaan seorang manusia hanya muncul saat dia berpikir? Tolak ukur manusia saat dia menggunakan otaknya? Bagaimana dengan organ lain seperti perasaan? Apakah otak rasional lebih tinggi dari pada perasaan hati?

Sejumlah pertanyaan dapat dilontarkan dari sebuah kalimat pendek Descartes, dan itulah esensi dari filsafat. Dalam teori filsafat terdapat empat nilai yang melandasinya, yaitu nilai otologik jika berbicara tentang obyek; nilai epistemologi jika berbicara tentang metode; nilai estetika jika berbincang tentang sistem; dan nilai etik jika berbicara tentang kebenaran yang dicapai.

Dari sini nampaknya filsafat adalah sebuah pengetahuan yang rumit dan membuat pusing kepala. Hal itu hanya nampaknya. Filsafat sebenarnya dapat ditempatkan sebagai sebuah tuntunan untuk berpikir lebih jernih, atau dalam tataran akademik, adalah cara berpikir ilmiah.

Dalam arsitektur, ada serial yang diterbitkan oleh Routledge dengan judul “Thinkers for Architects,” yang sampai akhir tahun 2019 ada 16 judul. “Architects have often looked to thinkers in philosophy and theory to find design ideas or in search of a critical framework for practice. Yet architects, and students of architecture, can struggle to navigate thinkers’ writings. It can be daunting to approach original texts with little appreciation of their contexts. And existing introductions seldom explore architectural material in any detail”.

Perspektif diatas adalah perspektif ilmiah dan nalar. Bagaimana jika perspektifnya perasaan, bukankah manusia tercipta dengan akal dan rasa? Mengapa ada ‘perasaan’ di sana, karena esensi filsafat adalah ‘cinta kebijaksanaan’. Ada kecintaan dan ada kebijakan, yang pasti tidak didapat dari ukuran rasional belaka. Itu yang membedakan antara manusia dengan artificial intelligence, sehingga sampai detik ini ‘manusia’ sebagai entitas yang utuh ‘belum’ tergantikan dengan aplikasi/sistem buatan/robot.

Bagaimana menjadi manusia yang punya perasaan?

Inilah yang membedakan dengan ‘ajaran Descartes’. Olah pikir adalah olah yang bersifat dialogis, olah yang mengadu ‘kemampuan pikir’ dengan ‘lawan pikirnya’. Ada pertarungan, ada diskursus. Sedangkan perasaan adalah lebih ke diri sendiri. Apa gunanya diri itu hidup? Untuk apa hidup? Apa yang bisa dikembangkan dari diri? Itulah yang akan diperbicangkan dan digali.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s