Fight for Architecture #1 – Theory?

Dari kemarin diskusi di “social media (ig)” OMAH Library berjalan intensif. Hal tersebut menandakan bahwa tema kali ini memberikan ruang dan pemikiran untuk para peserta diskusi, nara sumber, dan kami sendiri yang melihat narasi demi narasi adalah penting.

Ekosistem Tambal Sulam?

Kami di dalam OMAH Library merencanakan tema ini tidak hanya berhenti di minggu pertama bulan Januari 2023, tetapi melanjutkannya ke dalam sesi-sesi selanjutnya. Prinsip kami adalah terus berpikir positif dan terbuka untuk menjaring masukan-masukan yang ada. Dan berpikir terbuka membutuhkan kerangka teori (cara memandang) yang baik supaya parameter-parameter yang menjadi tegangan dan dorongan di dalam setiap diskusinya dapat dipetakan.

Pemetaan tersebut adalah road map yang membantu setiap orang untuk menghargai perspektif yang dimiliki orang lain. Dari situ diskusi yang sehat bisa terjadi.

Di sesi pertama, Undi Gunawan berusaha memetakan fenomena ini ke dalam sebuah inisiasi peta perjuangan pemikiran kerangka arsitektur (cara memandang), dan hal tersebut adalah teori yang terus dipertanyakan sampai pertanyaan tersebut menjadi benih untuk pertanyaan selanjutnya yang menandai proses pencarian dari jawaban-jawaban yang terus bertransformasi.

12 Kata, 4 Kumpulan, 3 Daya

Memandang secara teoretis (keberulangan yang disengaja; karena ber”teori” adalah sebuah aksi “memandang”) topik webinar kali ini, “Arsitektur Indonesia di Ekosistem yang Rusak?”, adalah tindakan yang spekulatif. Terlebih ketika “Teori” muncul sebagai sesi pembuka, satu dari dua belas kata yang akan dipertanyakan sepanjang webinar ini (Teori, Pos-Kolonial, Urban Desain, Pedagogi, Paradigma, Ideologi, Profesi, Partisipasi, Sejarah, Pergerakan, Arsip, dan Jaringan).

Aktivitas memandang, dilakukan ketika kejadian sedang berlangsung ataupun sudah berlangsung, terlebih bila kita hendak menyusun sebuah pemahaman dari serangkaian perbincangan dan kegiatan olah pikir. Namun, memandang dapat pula merupakan upaya mencari batas. Dengan daya yang ada, horison-horison ditemukan, dilampaui, dan terus menerus dijelajahi.

Hal inilah yang akan coba dilakukan dalam paparan bertajuk “Teori” ini. Ketika dua belas kata akan diikat menjadi empat kumpulan, diamati dalam jalinan tarik-menarik tiga daya. Apa saja empat kumpulan dan tiga daya ini? Biarlah itu menjadi kejutan paparan. Yang jelas, harapan yang muncul dari ikatan empat kumpulan ini adalah memahami tambatan pola pikir (baik yang mengikat maupun yang membebaskan), sekaligus punya daya dan kesadaran untuk melepaskan diri darinya, serta mempersiapkan bahtera untuk berlayar.

Untuk mengikuti acara ini, peserta dapat memberikan apresiasi dengan berdonasi (seikhlasnya) untuk setiap sesinya.

Apresiasi yang sahabat berikan memiliki makna yang besar dalam menciptakan ekosistem apresiatif antar Peserta – Panelis – Platform (Wadah) untuk mengembangkan literasi arsitektur Indonesia


Untuk dapat mengakses kelas Fight for Architecture #1 – Theory?
anda perlu melakukan donasi melalui tautan berikut:

Akses kelas akan dikirimkan ke email atau Whatsapp yang didaftarkan.


Pembicara

Undi Gunawan

Undi Gunawan merupakan staf pengajar dan Coordinator of Theory & History Department di Department of Architecture, Universitas Pelita Harapan. Semangat beliau dalam berbagi ilmu membuat beliau aktif di dunia literasi arsitektur, mengisi webinar-webinar, menulis buku, jurnal dan research sejak tahun 2014 sampai saat ini.


Berapa kelas Fight for Architecture in Broken Ecosystem lainnya bisa diakses di bawah ini:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s