Fight for Architecture #3 – Urban Design?

Soal-soal pelestarian cagar budaya di Jakarta sangat memerlukan bantuan pengetahuan dan pemahaman yang memadai tentang urban design. Demikian juga sebaliknya.

Melalui tiga pola pikir, Think Twice-Rethink-Think Ahead, penanganan cagar budaya yang berwawasan urban design, dan pendekatan urban design yang berwawasan cagar budaya terbukti telah menghasilkan beberapa pencapaian yang patut diperhitungkan.

Kegiatan peer review di Tim Sidang Pemugaran yang saya saksikan dari 2001 hingga 2020 dapat memberikan gambaran tentang arti penting pendampingan langsung pada proses perancangan yang berkenaan dengan cagar budaya dan urban design, sekaligus menunjukkan kelemahan pelaksanaan Panduan Rancang Kota (RTBL/urban design guidlines) di Jakarta (dan kota-kota lain di Indonesia).

Pekan ini, Omah Library kembali menyelenggarakan webinar “Fight for Architecture in Broken Ecosystem: The Trap of Post Colonial Country ” Episode ke-3 dengan pembicara Bambang Eryudhawan pada hari Jumat, 14 Oktober 2022 pukul 19.00 WIB. Melalui pengalamannya selama menjadi anggota dari Tim Sidang Pemugaran dari tahun 2001 hingga 2020, Bambang Eryudhawan akan membahas apa yang menjadi persoalan di dalam pelestarian cagar budaya dan urban design di Jakarta, serta sudut pandangnya tentang apa-apa saja tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan peraturan tata kota di Indonesia.

Dan bagaimana sesungguhnya topik cagar budaya dan urban design ini saling berkaitan sehingga memerlukan pemahaman yang memadai. Pola pikir Think Twice-Rethink-Think Ahead dapat membantu menjelaskan bagaimana cagar budaya dan urban design dapat saling berkaitan dan memberikan pemahaman lebih luas untuk mendapatkan solusi strategis.


Untuk dapat mengakses kelas Fight for Architecture #3 – Urban Design? anda perlu melakukan donasi melalui tautan berikut:

Akses kelas akan dikirimkan ke email atau Whatsapp yang didaftarkan.


Pembicara

Bambang Eryudhawan

Bambang Eryudhawan memiliki spesialisasi dalam bidang urban design, pelestarian cagar budaya, dan sejarah. Beliau termasuk salah satu pendiri Arsitek Muda Indonesia (1989) dan Pusat Dokumentasi Arsitektur (2002). Beliau pernah menjabat sebagai Ketua IAI Jakarta (2000-2003 dan 2003-2006), Wakil Ketua II IAI Nasional (2008-2011), dan Majelis Kehormatan IAI Nasional (2015-2018). Beliau juga pernah menjadi anggota dari beberapa badan yaitu Tim Sidang Pelestarian DKI Jakarta (2001-2020), Tim Penasehat Arsitektur Kota (2004-2014), Tim Pertimbangan Dinas Pertamanan DKI Jakarta (2005-2009), Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (2013-2023), dan Dewan Arsitek Indonesia. Beliau terlibat aktif dalam proses perencanaan Pelestarian Bangunan VOC di Banda Naira (2007-2010), PerancanganContinue reading “Bambang Eryudhawan”


Berapa kelas Fight for Architecture in Broken Ecosystem lainnya bisa diakses di bawah ini:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s